Waktu
itu saya masih berusia 4 tahun, saya ingat ini terjadi setelah hari
raya. Saya pulang mudik, karena perjalanan sangat jauh (Kira kira 8 jam)
Saat sampai rumah saya langsung tertidur pulas. Saat saya enak enaknya
tidur pulas, saya langsung bangun karena
mau pipis. Di dekat kamar mandi ada sebuah gudang, anehnya gudang itu
terbuka. Padahal biasanya dikunci oleh ortuku
Kembali ke TKP,
setelah saya buang air (Waktu itu saya sudah berani pipis tanpa
dianterin Ortu), saya menuju kamar. Dan saya melewati gudang yang saya
bicarakan tadi. Dan saya juga heran kenapa pintu gudang itu
dibuka?(Maklum msh kecil jadi gampang curiga) Saat saya terheran heran,
tiba tiba muncul sebuah tangan yang besarnya kira kira 2x Tangan orang
dewasa dan berkuku sangat panjang, dan samar samar saya mendengar suara
“Kemarilah, nak”
Saya langsung terpaku dan diam, waktu itu saya
mau lari tapi gak bisa kayak di tahan kakinya. Langsung tangan itu
menuju saya secara perlahan….semakin mendekat…. Dan baru waktu itu saya
bisa lari ke kamar sambil baca bismilah (Umur 4th saya blm apal al
fatihah) Barulah Tangan tersebut hilang…. Esoknya dikamar aku
menceritakan kejadian tersebut pada ibu… Namun ibu saya cuma diam saja…
Itulah cerita seram saya, saya masih ingat walau udh 19th yang lalu.
maaf kalo gak serem dan penulisan yg acak acakan. Mohon Comment dgn
sopan
Rabu, 24 Juli 2013
Senin, 22 Juli 2013
Cerita Rumah Berhantu
Desember
2004, ini adalah tahun terburuk dalam kehidupanku. Rumah yang sudah
bertahun-tahun kami huni harus kami tinggalkan untuk biaya pengobatan
ayahku. Akhirnya kami pindah ke sebuah rumah kontrakan yang sederhana.
Seram…sunyi dan membuat bulu kudukku berdiri ketika pertama kali aku melihat…
rumah itu.apalagi ditambah pohon lengkeng yang lebat menambah angkernya rumah itu. “Hah…malam kali ya belum dipasang lampu.”, begitu kataku dalam hati. Apalagi ketika aku memasuki rumah, “rumah yang sangat seram”, dan aku merasakan sangat tidak nyaman ketika berada disana. “Ayo ma kita pulang, besok baru kita kesini lagi” kataku. Ketika aku akan mengunci pintu rumah, aku merasa seperti ada seseorang yang mengawasiku. Ku rasakan bulu tangan ku berdiri semua, seperti ada seseorang yang menyentuh tanganku dingiiin sekali, lama aku memandang rumah itu sebelum aku pulang,. “ma kenapa sih harus rumah yang itu?! Apa ga ada lagi rumah yang lebih bagus?” kataku menggerutu. “Gimana lagi rumah nya sudah dibayar lunas, barang-barang juga sudah dipindahkan” kata mamaku. “iya tapi rumah itu ngeri!!!” kataku dengan setengah berteriak.”udah udah gak usah ribut, beresin aja baju kamu sana!!” kata mamaku.
Ya, kami memang menumpang tinggal sementara di rumah tanteku sebelum kami mendapat kontrakan. Siang itu akhirnya kami semua pindah ke rumah kontrakan kami yang baru, bau apek yang sangat menyengat seperti rumah yang sudah bertahun-tahun tidak berpenghuni. “ih… bau, bau apa sih ini?” “iya bau!!!” kata adik-adikku. Aku cuma bisa terdiam “yah mau apa lagi, kami memang harus tinggal disini”, batinku.
Satu bulan sudah aku disini. Tapi rasa takut ku belum juga hilang, seolah ada yang terus mengawasiku di rumah ini. Tapi aku tudak tahu itu siapa, aku hanya bisa merasakan tanpa bisa melihatnya. “Ty…ty…”, kata papa ku memanggilku. “Tolong pijitin papa”, katanya lagi. Kemudian aku terbangun, ketika itu waktu menunjukkan pukul satu. Ya papa ku memang sudah lama sakit, dan hampir setiap malam kami anak-anaknya bergantian untuk memijit papa. Dan hari ini adalah giliranku untuk memijitnya, waktu menunjukkan pukul 2 ketika aku baru saja selesai memijit papaku.
Aku kembali ke kamar untuk tidur, ketika aku berjalan ke kamar. Aku merasa seseorang mengikutiku dari belakang. Kupalingkan wajahku kebelakang, tapi tidak ada siapa-siapa. Cepat-cepat aku berlari ke kamar, kunyalakan lampu kamarku. Tapi tiba-tiba “tuk!!!”, lampu di kamarku putus dan tidak bisa menyala. Jantungku semakin berdetak kencang, keringat dingin mengalir di dahiku dan aku merasa tiupan angin meniup telingaku. Cepat-cepat aku memejamkan mata, aku ingin hari segera pagi.
“Krek…krekkk…”, jantungku semakin bertedetak lebih kencang, aku merasa ada seseorang yang merangkak naik ke atas kasurku. Aku takut, tapi aku merasa penasaran. Aku lalu membuka mataku perlahan, tapi….tapi…!!!. Aku tercengang tak percaya dengan apa yang kulihat. Aku ingin berteriak dan berlari, tapi lidah dan kakiku terasa kaku dan tidak bisa bergerak. Sesosok wanita berambut panjang berbaju putih berjalan menggeret kakinya. Kuku-kuku yang panjang dan hitam menyentuh kakiku, tangan itu dingiiiiinnn sekaliiii…!!!, dan merangkak naik ke atas kasurku. Aku hanya bisa memejamkan mata dan membaca ayat-ayat yang kutahu dalam hati. Pikiran ku kosong, hanya ayat-ayat alqur’an yang mengisi kepalaku. Perlahan aku merasakan sentuhan tangan itu menjauh dari ku. Aku lalu membuka mata dengan perlahan, dan aku tidak bisa memejamkan mata sampai adzan subuh berkomandang.
Seram…sunyi dan membuat bulu kudukku berdiri ketika pertama kali aku melihat…
rumah itu.apalagi ditambah pohon lengkeng yang lebat menambah angkernya rumah itu. “Hah…malam kali ya belum dipasang lampu.”, begitu kataku dalam hati. Apalagi ketika aku memasuki rumah, “rumah yang sangat seram”, dan aku merasakan sangat tidak nyaman ketika berada disana. “Ayo ma kita pulang, besok baru kita kesini lagi” kataku. Ketika aku akan mengunci pintu rumah, aku merasa seperti ada seseorang yang mengawasiku. Ku rasakan bulu tangan ku berdiri semua, seperti ada seseorang yang menyentuh tanganku dingiiin sekali, lama aku memandang rumah itu sebelum aku pulang,. “ma kenapa sih harus rumah yang itu?! Apa ga ada lagi rumah yang lebih bagus?” kataku menggerutu. “Gimana lagi rumah nya sudah dibayar lunas, barang-barang juga sudah dipindahkan” kata mamaku. “iya tapi rumah itu ngeri!!!” kataku dengan setengah berteriak.”udah udah gak usah ribut, beresin aja baju kamu sana!!” kata mamaku.
Ya, kami memang menumpang tinggal sementara di rumah tanteku sebelum kami mendapat kontrakan. Siang itu akhirnya kami semua pindah ke rumah kontrakan kami yang baru, bau apek yang sangat menyengat seperti rumah yang sudah bertahun-tahun tidak berpenghuni. “ih… bau, bau apa sih ini?” “iya bau!!!” kata adik-adikku. Aku cuma bisa terdiam “yah mau apa lagi, kami memang harus tinggal disini”, batinku.
Satu bulan sudah aku disini. Tapi rasa takut ku belum juga hilang, seolah ada yang terus mengawasiku di rumah ini. Tapi aku tudak tahu itu siapa, aku hanya bisa merasakan tanpa bisa melihatnya. “Ty…ty…”, kata papa ku memanggilku. “Tolong pijitin papa”, katanya lagi. Kemudian aku terbangun, ketika itu waktu menunjukkan pukul satu. Ya papa ku memang sudah lama sakit, dan hampir setiap malam kami anak-anaknya bergantian untuk memijit papa. Dan hari ini adalah giliranku untuk memijitnya, waktu menunjukkan pukul 2 ketika aku baru saja selesai memijit papaku.
Aku kembali ke kamar untuk tidur, ketika aku berjalan ke kamar. Aku merasa seseorang mengikutiku dari belakang. Kupalingkan wajahku kebelakang, tapi tidak ada siapa-siapa. Cepat-cepat aku berlari ke kamar, kunyalakan lampu kamarku. Tapi tiba-tiba “tuk!!!”, lampu di kamarku putus dan tidak bisa menyala. Jantungku semakin berdetak kencang, keringat dingin mengalir di dahiku dan aku merasa tiupan angin meniup telingaku. Cepat-cepat aku memejamkan mata, aku ingin hari segera pagi.
“Krek…krekkk…”, jantungku semakin bertedetak lebih kencang, aku merasa ada seseorang yang merangkak naik ke atas kasurku. Aku takut, tapi aku merasa penasaran. Aku lalu membuka mataku perlahan, tapi….tapi…!!!. Aku tercengang tak percaya dengan apa yang kulihat. Aku ingin berteriak dan berlari, tapi lidah dan kakiku terasa kaku dan tidak bisa bergerak. Sesosok wanita berambut panjang berbaju putih berjalan menggeret kakinya. Kuku-kuku yang panjang dan hitam menyentuh kakiku, tangan itu dingiiiiinnn sekaliiii…!!!, dan merangkak naik ke atas kasurku. Aku hanya bisa memejamkan mata dan membaca ayat-ayat yang kutahu dalam hati. Pikiran ku kosong, hanya ayat-ayat alqur’an yang mengisi kepalaku. Perlahan aku merasakan sentuhan tangan itu menjauh dari ku. Aku lalu membuka mata dengan perlahan, dan aku tidak bisa memejamkan mata sampai adzan subuh berkomandang.
Langganan:
Postingan (Atom)