Sabtu, 13 Juli 2013

HANTU PEMILIK TOKO

Kejadian ini terjadi  kira-kira 5  tahun yang lalu, di boston  persisnya aku lupa bulan dan tanggalnya, ketika itu musim  panas dan  matahari bersinar begitu teriknya.
Dan saat itu aku  masih study di salah satu universitas swasta  di boston.  Walaupun aku bisa sekolah di boston sebenarnya bukan karena pretasi ataupun karena aku kaya, tapi karena aku terlalu keras kepala dan terlalu memaksakan kehendakku sampe-sampe orang tuaku menjual  tanah warisan untuk bisa membiayaiku kuliah disana. Maklum ortuku hanya seorang PNS.
ketika itu aku lagi ada masalah, yah.. biasalah masalah anak kost sama seperti anak kost di indonesia , apalagi kalau bukan soal duit, kali ini orangtuaku ngga bisa ngirimin duit tepat waktu. Uang kiriman yang biasanya selalu aku terima awal bulan, kini baru bisa dikirim pertengahan bulan depan.
Maklum adikku sebentar lagi akan melanjutkan ke perguruan tinggi, dan membutuhkan tidak sedikit biaya.  Terpaksa orang tuaku minta pengiriman uang sakuku di pending sampe pertengahan bulan.  Sekalian menyuruhku untuk berusaha meminjam dari teman-teman .
Tapi aku orangnya agak gengsian, lebih baikaku kelaparan daripada jatuh harga diriku Cuma karena minjem duit. Ketauaan banget kan kerenya…  setelah aku pikir-pikir lebih baik aku mencoba mencari pekerjaan paruh waktu yang biasanya dilakoni anak sekolah di sini.  Itung-itung lumayan buat nambah-nambah uang saku.
Tapi usahaku ini tidak semudah yang aku bayangkan, tidak ada satupun perusahaan yang mau menerimaku, macem- macem dech alasannya, ada yg bilang  sudah mendapatkan tenaga yg dibutuhkan lah.. ga ada lowongan lah.. ga nerima orang yg ga punya pengalaman sama sekali lah.. dan segudang alasan yg kayaknya dibuat-buat.
Emang sih kalo musim panas tiba banyak anak- anak sekolahan yg nyambi part time buat nambah uang saku. Aku berusaha menenangkan diriku sejenak, sambil duduk-duduk di salah satu taman kota yang rindang.  Lama melamun membuatku kehausan,  maklum seharian keliling-keliling  cari kerja .
Kebetulan dipojok taman itu ada toko  es krim tua yang udah terkenal dikota ini  bahkan uda  buka selama tiga generasi. Lalu aku memutuskan pergi kesana dan membeli sebatang es krim buat menghilangkan rasa haus ini.

Ada counter berbentuk huruf  ”L”  di depan dan sebelah kanan ku. Dan ketika aku membuka dompet untuk membayar  es krim itu, tiba-tiba ada seorang nenek tua berdiri di belakang meja counter itu. Dan dia tersenyum, lalu aku meminta maaf karena kelamaan mengambil uang di dompet, maklum isinya hanya uang recehan. Lalu ketika aku akan membayar dan melirik lagi ke counter itu, dia telah pergi.

Tiba-tiba aku mendengar seseorang bertanya “can i help you ?” dan melirik kekanan di tempat wanita tua itu tadi berdiri.

Aku terkejut lalu aku bertanya kepada wanita tersebut “where the old lady had gone to who was going to serve me?”  kemudian wanita itu tertawa dan memberitahuku kalau wanita tua yang barusan aku lihat adalah hantu pendiri toko es krim tersebut.

Kamis, 11 Juli 2013

BEBERAPA CERITA TENTANG HANTU JERUK PURUT

Berbagai ibukota negara kesatuan negara Indonesia, Jakarta tumbuh menjadi sebuah kota yang hiruk pikuk oleh para penghuninya. Jakarta dipenuhi oleh manusia dari berbagai latar belakang budaya dan suku bangsa yang berbeda pula. Kepadatan ibukota Jakarta bahkan sudah menimbulkan masalah yang benar-benar membuat penghuninya merasa kesal. Bahkan perputaran uang terbesar di Indonesia terjadi di kota ini.
 
Dibalik hiruk pikuknya kota Jakarta, ternyata kota ini menyimpan kisah lain yang tidak dipedulikan oleh kaum metropolis di Jakarta. Di kota Jakarta terdapat beberapa lokasi angker dengan kisahnya masing-masing. Salah satu lokasi yang menyeramkan tersebut adalah Tempat Pemakaman Umum Jeruk Purut, Jakarta Selatan. Berikut beberapa cerita tentang hantu Jeruk Purut ini:

Pastur Kepala Buntung
Di tahun 1986, Supri, penjaga makam di Tempat Pemakaman Umum Jeruk Purut melihat penampakan hantu dengan sosok pastur tanpa kepala yang menenteng kepalanya sendiri. Menurut pengakuan masyarakat sekitar, pastur kepala buntung (julukan yang diberikan oleh masyarakat sekitar) ini mencari makamnya yang terletak di unit Kristen di pemakaman Tanah Kusir Jakarta. Pengalaman Supri ini menjadi kisah yang terkenal di daerah Jakarta. Jika Anda ingin melihat sendiri hantu Jeruk Purut berwujud pastur ini datanglah ke Tempat Pemakaman ini pada malam Jumat dengan jumlah pengunjung ganjil (satu, tiga, lima, dan seterusnya).


Cerita lainnya, ada dua orang pemuda yang pulang dari suatu acara. Kebetulan di jalan pulang mereka harus melewati daerah Jeruk Purut. Salah satu dari pemuda ini meremehkan tentang cerita hantu Jeruk Purut. Ketika melewati daerah Jeruk Purut, tiba-tiba mobil mereka mogok dan lampu mobil menyala dengan sendiri. Ketika mereka memutuskan untuk masuk ke dalam mobil, mereka melihat penampakan hantu pastur kepala buntung. Secara tiba-tiba mobil mereka bisa menyala kembali, namun anehnya tidak bisa di gas. Padahal spedometernya telah menunjuk angka maksimal. Setelah hantu itu menghilang barulah mereka dapat membawa mobil tersebut. Anehnya, mobil itu berjalan dengan sangat pelan. Untuk mencapai rumah mereka, dibutuhkan waktu sampai fajar menjelang.

Sosok pastur kepala buntung adalah sosok hantu paling terkenal di Jakarta. Penasaran dengan foto hantu ini? Sampai saat ini banyak orang yang mengaku memiliki foto hantu pastur kepala buntung, namun tidak satu pun yang dapat di dipastikan bahwa foto tersebut adalah asli.

Kuntilanak Laki-Laki
Ternyata sosok kuntilanak tidak hanya wanita berbaju putih saja. Kuntilanak juga ada dengan sosok laki-laki dan tuyul. Penampakan kuntilanak laki-laki ini dialami oleh Asmadi, penjaga Tempat Pemakaman Umum Jeruk Purut. Ketika sedang berkeliling, Asmadi ditempuk oleh seseorang dari atas pohon melinjo. Ketika menoleh ia melihat sosok kuntilanak laki-laki di atas pohon. Suatu kali Asmadi juga pernah dimintai uang oleh sosok tuyul. Setelah diberi uang, tuyul itu langsung lari ke dalam keramat (rumah pemakaman khas Betawi). Ketika diikuti ke dalam keramat ternyata sosok tuyul itu sudah tidak ada.

Selasa, 09 Juli 2013

CERITA POCONG DI STASIUN UI

Sesuai janjiku tadi malam langsung saja baca kisahnya.
Seram… itulah hal yang saya rasakan ketika membaca Pocong di Stasiun UI. Bagi anda yang takut cerita hantu, misteri, mistik, dan gaib, sebaiknya jangan lanjutkan membaca cerita seramPocong di Stasiun UI. tiap malem di kosan gw di margonda selalu begadangan sambil gitar2an…. di balkon sambil liatin cewe yg liwat… biasanya sampe jam 1-2 an lah… malam itu mendadak sepi banget…..cuman kami ber4 yg gitaran…. tiba2 salah satu temen gw liat pocong!!!! dia nunjuk n kami semua melihat “mahluk imut” yang sama!!!!! temen gw yg pertama liat langsung tereak “KEJAR!!!” 3 orang temen gw langsung ngejar sedang kan gw tetap tenang dan melangkah masuk ke kamar!… soalnya gw sungkan kalo harus ngejar2 mr P itu… selanjutnya.. (versi 3 temen gw) mereka ngejar tu Poci dari depan kos2an….tu Poci terus lari sampai tikungan pertama….tetap kejar!!!! sampai tikungan kedua….tetap kejar!!!! naa…di tikungan ke tiga…tepat di stasiun UI…. mereka tetap kejar…walaupun si Poci sudah ga terlihat setelah tikungan ke 3 ini… sampai di pojok tikunagn ke 3….otomatis hadap2an ama stasiun UI… JREEEENNNGGGG!!!!! dari posisi siap kejar…langsung balik kanan…dan KABUUUURRRRR….. kenapa???? soalnya mereka ber3 liat di stasiun UI penuh dengan pocong.

Minggu, 07 Juli 2013

Cerita seram melihat orang yang sudah meninggal

kejadian ini terjadi pada tahun 1995 pas malam Jum’at legi, lebih tepatnya sudah gak ingat lagi (maaf sudah terlalu lama). Saya ingat malam Jum’at legi karena malam ini di kampung kami yang memegang adat Jawa sangat mensakralkan malam ini.

Langsung saja, ketika itu saya, Eko dan beberapa teman lain sedang kumpul-kumpul sambil gitaran (di kampung kami biasa menyebutnya Cangkruk) karena memang situasinya sedang liburan kenaikan kelas (waktu itu saya dan Eko naik kelas 2 SMP). Dulu liburan kenaikan kan lebih dari 1 bulan jadi ketika kami "cangkruk" yang pasti ada rasa bosan karena tiap malam selalu cangkruk dan usia kami masih SMP jadi kondisi keuangan selalu minim, jadi hiburan kami selalu kumpul dan main gitar, begitu terus. Kalaupun ada kegiatan lain mungkin kami akan bakar ketela atau apalah (maklum kami anak kampung). Oh ya, saya tinggal di Banyuwangi daerah selatan (pinggir hutan Purwo), jadi kalau masalah cerita yang seram sih di tempatku sangat banyak. Jadi besok kalau saya punya waktu luang akan saya "cicil" untuk menceritakannya.

Sorry ngelantur... Waktu itu Eko karena bosan ngajak saya dan teman-teman lainnya untuk mancing belut di kanal (sungai buatan kecil untuk mengairi sawah). Beruntung saya menolak karena saya selalu mempunyai keberuntungan yang kecil dalam memancing dengan kata lain "saya gak bisa mancing".

Nah akhirnya Eko dan tiga teman saya yang lain berangkat memancing. Sampai di kanal gak ada masalah meskipun kondisinya gelap gulita dan tidak ada satu rumah penduduk (ya jelas dong karena di sawah). Mereka bergerak perlahan mencari lubang demi lubang tempat belut bersarang. Lumayan mereka sudah mendapatkan banyak tangkapan sampai akhirnya alur kanal tersebut belok ke arah desa. Nah ada beberapa rumah di pinggir area persawahan tersebut, termasuk rumah mbah Suro (mbah Suro seorang duda tinggal sendiri dan anaknya merantau dan tidak pernah kembali) depan rumah tersebut merupakan pekarangan, belakangnya rimbunan pohon bamboo, samping kanannya pekarangan juga dan kirinya langsung berbatasan dengan kanal tempat Eko cs memancing.

Pada waktu itu Eko cs merasa curiga karena rumah tersebut kok ada penerangannya meskipun hanya "dimar ublik" (lampu tempel berbahan bakar minyak tanah) padahal mereka tahu kalau mbah Suro sudah meninggal belum ada 7 harinya sedangkan anak-anaknya tidak mengetahui kabar tersebut (karena belum ada HP, telephon saja belum) dan kamipun ikut Ta’jiah waktu itu (adat kami di desa masih sangat "Gotong Royong" sekali, tapi sekarang sudah mulai luntur meskipun demikian kalau masalah kematian warga kami tetap kompak sampai sekarang).

Rasa penasaran yang semakin menjadi membuat Eko cs mengintip (dindingnya terbuat dari anyaman bambu yang sudah lama sehingga sangat mudah untuk membuat lubang buat ngintip). Setelah para pemancing mania tersebut mengintip, tanpa komando mereka langsung lari semburat sampai alat pancing dan belutnya pun tertinggal.

Ternyata diantara celah lobang anyaman bambu yang mereka buat, mereka melihat sebuah dimar ublik yang diletakkan di atas meja panjang dan dihadapan dimar tersebut terdapat sesosok tubuh yang dibalut kain putih kotor oleh tanah dalam keadaan duduk memandangi dimar tersebut dengan tatapan kosong. Dan mereka dengan jelas melihat wajah diantara celah kain kotor yang membungkusnya tersebut... adalah wajah mbah Suro.